Kebocoran udara pada sistem ducting jarang terjadi pada badan duct itu sendiri. Lockseam spiral pada spiral duct berkualitas justru menjadi salah satu titik dengan risiko kebocoran paling rendah dibanding jenis ducting lain. Titik yang paling rentan justru berada di sambungan antar segmen, yaitu tempat nipple, clamp, dan fitting bertemu dengan badan duct. Memilih jenis sambungan yang tepat dan memasangnya dengan metode yang benar sangat penting. Ini menentukan apakah efisiensi spiral duct benar-benar tercapai di lapangan. Jika tidak, efisiensi bisa hilang lewat celah kecil di setiap sambungan.
Nipple, atau sering disebut socket atau coupling, adalah fitting silinder pendek dengan diameter yang dibuat pas untuk masuk ke dalam ujung spiral duct. Cara kerjanya sederhana: nipple dimasukkan ke dalam ujung duct pertama. Selanjutnya, ujung duct kedua disambungkan dengan menutupi sisi nipple yang tersisa, sehingga menghasilkan sambungan pipe-to-pipe yang rata dan sejajar.
Sebagian besar nipple memiliki stop bead, yaitu tonjolan kecil di bagian tengah yang berfungsi sebagai batas pemasangan kedua segmen duct. Dengan adanya stop bead, kedua segmen dapat terpasang dengan jarak yang konsisten tanpa saling tumpang tindih secara berlebihan. Setelah terpasang, sambungan dikunci menggunakan sheet metal screw atau self-drilling screw (Tek-screw) di sekeliling lingkaran sambungan, kemudian disegel dengan sealant.
Clamp berfungsi sebagai pengikat mekanis tambahan pada sambungan, terutama pada konfigurasi flanged joint. Komponen ini juga memudahkan proses bongkar-pasang secara berkala, misalnya untuk keperluan perawatan atau pembersihan duct. Pada sambungan berdiameter besar yang menggunakan sistem flange, clamp jenis barrel atau draw band berfungsi mengunci dua flange yang telah dilengkapi gasket. Sistem ini menghasilkan sambungan yang rapat tanpa memerlukan pengelasan atau pengeboran untuk pemasangan sekrup di sekeliling sambungan.
Clamp menjadi pilihan yang lebih praktis dibandingkan sambungan permanen pada titik-titik yang memang dirancang untuk dapat dibuka kembali. Contohnya adalah area sebelum dan sesudah unit fire damper atau access door untuk memudahkan proses inspeksi.
Collar digunakan ketika teknisi perlu mengambil cabang duct langsung dari badan main duct tanpa memutus jalur utama. Teknisi memasang collar pada lubang di dinding main duct untuk membuat titik sambungan bagi cabang duct berdiameter lebih kecil yang menuju ke zona atau ruangan tertentu. Metode ini lebih efisien dibandingkan memutus main duct dan menyisipkan fitting tee pada setiap titik percabangan. Keunggulan ini semakin terasa pada sistem yang memiliki banyak titik cabang berukuran kecil di sepanjang satu jalur main duct.
Baca juga: Panduan Teknis Instalasi Spiral Duct HVAC
Selain sambungan lurus, sistem spiral duct membutuhkan fitting untuk mengubah arah, mencabangkan aliran, atau mengubah dimensi saluran. Setiap fitting ini pada dasarnya juga tersambung ke badan duct menggunakan metode nipple atau flange yang sama, namun bentuknya disesuaikan dengan fungsi masing-masing.
Elbow mengubah arah aliran udara, tersedia dalam variasi sudut sesuai kebutuhan layout. Elbow duct ASTEM tersedia dalam konstruksi gored atau stamped tergantung radius belokan yang dibutuhkan proyek.
Tee dan tee cross mencabangkan aliran udara dari satu jalur main duct ke satu atau dua cabang sekaligus. Tee duct digunakan saat percabangan tunggal, sementara tee cross digunakan saat dua cabang berlawanan arah dibutuhkan pada titik yang sama.
45 Y ducting memberikan percabangan dengan sudut yang lebih landai dibandingkan tee standar. Desain ini membantu mengurangi turbulensi dan pressure drop pada titik percabangan, sehingga relevan untuk sistem yang membutuhkan efisiensi energi tinggi.
Reducer menyambungkan dua segmen duct dengan diameter berbeda, umum digunakan pada transisi dari main duct berdiameter besar ke cabang yang lebih kecil menuju titik distribusi akhir.
Offset duct menggeser jalur duct secara paralel untuk menghindari halangan struktural seperti balok atau pipa lain tanpa mengubah arah aliran utama.
Branch duct dan hopper duct digunakan untuk konfigurasi percabangan dan pengumpulan aliran yang lebih kompleks, umum pada sistem exhaust industri dengan banyak titik pengambilan udara.
Kekuatan mekanis sambungan saja tidak cukup untuk mencegah kebocoran udara. Setiap sambungan nipple maupun flange perlu disegel menggunakan mastic sealant atau foil tape yang memenuhi listing UL 181 untuk aplikasi HVAC. Sealant sebaiknya diaplikasikan pada permukaan sambungan sebelum sekrup dipasang, bukan setelahnya. Cara ini membantu sealant menutup celah mikro di sekitar lubang sekrup secara lebih merata, karena aplikasi setelah sekrup terpasang cenderung kurang efektif.
Jumlah dan jarak sekrup turut memengaruhi keandalan sambungan. Praktik umum di lapangan menggunakan tiga hingga enam sekrup per sambungan tergantung diameter duct, dengan jarak antar sekrup yang konsisten di sekeliling lingkaran sambungan. Menerapkan sealant pada lockseam spiral itu sendiri bukan solusi yang tepat, karena penutupan lockseam yang tidak presisi justru dapat menciptakan celah baru alih-alih menutupnya.
Pada spiral duct berdiameter besar, umumnya di atas 1.500 mm, sambungan slip/nipple standar menjadi kurang praktis untuk mempertahankan bentuk lingkaran duct secara presisi. Pada kondisi ini, flanged joint menjadi pilihan yang lebih andal. Flange dipasang pada setiap ujung segmen duct, dilengkapi gasket EPDM atau neoprene di antara kedua flange, kemudian dikunci menggunakan clamp atau baut di sekeliling lingkaran sambungan. Metode ini juga memudahkan proses bongkar-pasang untuk kebutuhan maintenance pada sistem berskala besar.
Sistem exhaust dapur komersial yang mengalirkan udara bercampur uap minyak (grease-laden) membutuhkan metode sambungan yang lebih ketat dibanding sistem HVAC umum. Sambungan welded dengan material stainless steel atau black iron menjadi persyaratan umum pada jalur ini. Hal ini karena sambungan mekanis biasa berisiko menjadi titik penumpukan lemak dan mengalami kebocoran seiring waktu.