Tee Cross Ducting HVAC

Tee cross ducting adalah komponen fitting berbentuk tanda plus (+) yang memungkinkan satu jalur main duct mendistribusikan udara ke empat arah cabang sekaligus dari satu titik percabangan tunggal. Digunakan di persimpangan jaringan ducting, tengah gedung, atau titik distribusi sentral yang harus melayani empat zona berbeda. Tee cross lebih efisien dari ruang dan lebih ekonomis dari dua tee duct terpisah yang dipasang berurutan. Tersedia rectangular dan round, galvanis dan aluminium, dengan custom dimensi tiap cabang sesuai kebutuhan CFM proyek.



Spesifikasi Tee Cross

Tee cross ducting in HVAC system for efficient airflow distribution.
Tee cross ducting size guide for HVAC systems

Material

Galvanized Steel • Aluminium • SUS

Simetri

Simetris • Asimetris

Konfigurasi

4 arah percabangan

Sambungan

TDC • TDF • Flange

Ukuran

Custom

mengapa Memilih Tee Cross Ducting ASTEM?

Cocok untuk berbagai jenis proyek

Gedung Komersial

Perkantoran, mall, hotel

Hunian

Apartemen, perumahan

Industri

Pabrik, gudang, workshop

Fasilitas Publik

Rumah sakit, kampus, terminal

Butuh Spesifikasi Khusus?

Tim engineering kami siap membantu menentukan tee cross ducting yang tepat sesuai kebutuhan teknis proyek Anda.

FAQ

Apa itu tee cross ducting dan apa perbedaannya dengan tee duct biasa dalam sistem HVAC?

Tee cross ducting adalah komponen fitting ducting berbentuk tanda plus (+) atau silang yang memungkinkan satu jalur main duct mendistribusikan udara ke empat arah sekaligus dari satu titik tunggal. Ini adalah versi yang lebih kompleks dari tee duct biasa

Keputusan antara tee cross dan dua tee duct terpisah bergantung pada geometri jaringan distribusi dan jarak antara titik-titik percabangan dalam sistem. Tee cross adalah pilihan yang lebih efisien ketika keempat zona yang harus dilayani berasal dari satu titik distribusi yang sama secara geometris. Dua tee duct terpisah lebih tepat ketika dua percabangan memiliki jarak yang signifikan di sepanjang main duct

1. Mendefinisikan CFM total yang mengalir melalui inlet tee cross.

 

2. Menentukan alokasi CFM per zona berdasarkan load calculation: Zona A mendapat 30% CFM, Zona B 25%, Zona C 25%, dan Zona D 20% misalnya. Alokasi ini harus dijumlahkan tepat 100% dari total CFM inlet.

3. Menghitung dimensi optimal setiap cabang berdasarkan CFM yang dialokasikan dan kecepatan udara target. Untuk rectangular duct: W × H = CFM / kecepatan target (dalam satuan konsisten, misalnya m²/s). Untuk round duct: diameter = √(4 × Q / π / v). Kecepatan udara yang direkomendasikan untuk branch duct menuju zona hunian adalah 3–5 m/s untuk kenyamanan akustik.

4. Menentukan dimensi inlet tee cross. Idealnya, luas penampang inlet sama atau sedikit lebih besar dari total luas penampang empat cabang outlet. Hal ini untuk menghindari ekspansi yang tidak perlu di dalam body tee.

Mulai dengan membuka damper ke posisi penuh terbuka dan ukur CFM aktual di masing-masing cabang. Hitung rasio aktual dan target untuk setiap cabang. Tutup damper di cabang yang mendapat lebih banyak dari target. Mulai dari yang paling over (terlalu banyak) terlebih dahulu. Setelah penyesuaian pertama, ukur ulang semua cabang karena penyesuaian satu damper pasti mempengaruhi yang lain. Ulangi proses ini secara iteratif hingga semua cabang mendekati target (toleransi ±10% dari desain umumnya dapat diterima).

Memastikan distribusi udara tetap merata ke empat cabang dalam jangka panjang perlu pemantauan sistem lebih aktif. Hal ini dibanding fitting biasa, karena ada empat zona yang saling bergantung. Indikator paling mudah dideteksi dari distribusi yang tidak merata adalah perbedaan kenyamanan termal yang mencolok antara zona-zona yang dilayani tee cross yang sama. Jika satu zona selalu terlalu dingin, sementara zona lain kurang dingin, itu tanda awal distribusi tidak seimbang.

Related