Memasang Rain Hood pada Atap Untuk Curb, Flashing, Hujan Berangin, dan Re-entrainment Exhaust


Rain hood yang terpasang di atap

Rain hood atau rain cap di ujung pipa exhaust menyelesaikan satu masalah, yaitu air hujan yang jatuh dari atas langsung ke dalam duct. Namun di atap, ada dua masalah lain yang tidak diselesaikan oleh tudung itu sendiri. Pertama, bocor di pangkal penetrasi, yaitu sambungan antara pipa dan membran waterproofing atap. Kedua, udara buangan yang terhirup kembali oleh air intake di dekatnya (re-entrainment), sehingga bau atau kontaminan kembali masuk ke gedung. Keduanya ditentukan oleh cara dan lokasi pemasangan, bukan oleh kualitas tudungnya.

Baca juga: Pengertian, Fungsi, dan Jenis-Jenis Vent Cap

1. Curb dan Flashing: Titik Bocor Paling Umum

Setiap pipa atau duct yang menembus atap adalah jalur bocor potensial. Dua pendekatan umum adalah menembus atap langsung dengan flashing khusus penetrasi, atau memasang curb (dudukan yang ditinggikan) dan menempatkan terminasi di atasnya.

Naikkan terminasi dari permukaan atap

Terminasi pada atap datar umumnya perlu naik vertikal beberapa jarak dari permukaan atap, agar tidak berada di genangan air, tidak menarik debris, dan tidak terendam saat hujan deras. Ketinggian curb dan flashing mengikuti spesifikasi waterproofing dan standar setempat, yang biasanya mencantumkan tinggi minimum di atas permukaan atap akhir.

Koordinasikan urutan kerja

Curb dan penetrasi dipasang sebelum membran waterproofing, lalu membran dinaikkan ke sisi curb dan ditutup dengan counterflashing. Pekerjaan ini melibatkan lebih dari satu pihak, dan sering terlewat karena tidak jelas siapa yang bertanggung jawab pada sambungan antara pipa dan membran. Pastikan lingkup flashing masuk ke dalam BOQ dan jadwal kerja.

Segel tembusan fastener

Fastener yang menembus lapisan weatherproofing saat memasang tudung dapat menambah jalur bocor, sehingga pemasang harus menyegel setiap titik tembus dengan sealant yang kompatibel.

Dudukan yang kaku

Pipa dan tudung harus tertambat cukup kuat terhadap angin, karena gerakan akibat angin dapat merenggangkan sealant dan membuka sambungan flashing seiring waktu.

2. Hujan Berangin (Wind-Driven Rain)

Pada atap, terutama gedung tinggi, hujan jarang turun vertikal. Angin mendorong air miring ke arah celah antara tudung dan pipa. Tudung dengan profil lebih lebar dari diameter pipa dan drainase di pinggirannya memberikan perlindungan lebih baik terhadap kondisi ini, seperti pada Vent Cap Drain.

Ada kompromi di sini, yaitu celah yang lebih besar antara tudung dan pipa memberi free area lebih besar dan resistansi aliran lebih rendah, tetapi memungkinkan lebih banyak air miring masuk; celah lebih sempit atau tumpang tindih lebih besar menahan air lebih baik tetapi membatasi aliran. Pilihan ukuran tudung dan celahnya perlu menyeimbangkan keduanya sesuai debit exhaust dan kondisi cuaca lokasi.

3. Kondensat yang Menetes dari Sisi Dalam Tudung

Masalah yang jarang dibahas: kelembapan di dalam aliran exhaust dapat berkondensasi pada sisi dalam atap tudung yang lebih dingin, lalu menetes ke dinding dalam tudung atau kembali ke dalam duct. Jalur exhaust yang membawa udara hangat dan lembap, misalnya dari dapur atau area basah, lebih rentan. Pastikan tudung memiliki jalur drainase yang membuang air keluar dari sistem, dan pertimbangkan kemiringan atau drain pada duct vertikal di bawahnya sesuai desain.

Baca juga: Memilih Material Vent Cap Tahan Korosi Sesuai Lingkungan.

4. Re-entrainment: Exhaust yang Terhirup Kembali

Re-entrainment terjadi ketika udara buangan terbawa angin atau turbulensi gedung ke air intake. Akibatnya bau, panas, atau kontaminan kembali masuk ke sistem ventilasi. ASHRAE Standard 62.1 menanganinya melalui jarak minimum antara lubang buangan dan air intake, yang bergantung pada kelas udara buangan, dengan prosedur alternatif pada lampiran standar untuk menghitung jarak berdasarkan faktor seperti kecepatan buang. Beberapa hal yang relevan untuk instalasi di atap:

Jarak tergantung kelas udara

Udara dengan bau atau kontaminan lebih berat membutuhkan jarak lebih besar. Sebagai contoh, panduan ASHRAE mencantumkan jarak minimum sekitar 30 ft (10 m) untuk udara Kelas 4, yaitu udara dengan gas atau uap yang sangat tidak diinginkan atau berpotensi berbahaya. Nilai jarak berbeda antar edisi dan jenis fasilitas, sehingga gunakan edisi standar yang dirujuk proyek.

Arah dan kecepatan buang memengaruhi jarak

Standar memberikan modifier terhadap kecepatan buang berdasarkan arah dan konfigurasi pembuangan: buangan yang diarahkan menjauh dari intake memberi kredit, sedangkan buangan yang diarahkan ke arah intake memperbesar jarak yang dibutuhkan. Untuk terminasi yang dipasang di dalam equipment well, standar juga mengatur kondisi seperti buangan ke atas pada kecepatan tertentu atau terminasi di atas dinding yang mengelilinginya.

Tudung dapat mengubah arah plume

Rain hood yang menutup atas pipa mengalihkan buangan ke samping atau ke bawah, sehingga mengurangi gerak naik yang membantu pencampuran dengan udara luar dan dapat mendekatkan buangan ke permukaan atap. Untuk buangan yang kritis, seperti dapur, laboratorium, atau udara berbau, konsultasikan konfigurasi terminasi dengan perancang, karena rain hood datar bukan selalu pilihan terbaik.

Intake yang tersembunyi dari buangan lebih aman

Riset menemukan bahwa menghindari garis pandang langsung antara buangan dan intake meningkatkan pengenceran di intake setidaknya dua kali lipat. Menempatkan penghalang atau memindahkan titik buangan agar tidak terlihat langsung dari intake sering lebih efektif dibanding hanya menambah jarak.

Stack yang lebih tinggi untuk buangan berat

Stack vertikal sekitar 10 ft (3 m) lazim digunakan ketika buangan mengandung kontaminan di atas batas paparan yang diizinkan

ASTEM Air Solution Indonesia menerima pembuatan rainhood dan layanan instalasi sesuai dengan kebutuhan proyek. Konsultasikan dengan teknisi kami untuk mendapat rekomendasi terbaik untuk proyek Anda.

Isi Artikel
Konsultasi Gratis
Butuh rainhood atau komponen HVAC custom? Tim teknis kami siap membantu.