Fabrikasi dan Sambungan Lock Seam, Flange TDC/TDF, Sealing, dan Reinforcement Untuk Ducting BJLS


Sambungan Lock Seam, Flange TDCTDF, Sealing, dan Reinforcement Untuk Ducting BJLS

Dua kontraktor dapat memakai pelat BJLS yang sama, ketebalan yang sama, dan tetap menghasilkan ducting dengan kebocoran dan kekakuan yang sangat berbeda. Perbedaannya ada pada cara pelat dibentuk menjadi duct: jenis seam di sudut, jenis sambungan antar segmen, jarak reinforcement, dan seberapa konsisten sealing dikerjakan.Standar SMACNA mencatat bahwa seam memanjang jenis Pittsburgh dan button lock memiliki tingkat kebocoran yang relatif rendah. Sebaliknya, sambungan melintang (transverse joint) berpotensi mengalami kebocoran yang lebih tinggi. Oleh karena itu perlu lebih memfokuskan pemeriksaan dan pengendalian kebocoran pada sambungan antarsegmen.

Tiga Titik yang Menentukan Kebocoran

Pada duct rectangular, ada tiga jenis titik yang berpotensi bocor:
- Seam longitudinal, yaitu sambungan memanjang di sudut duct tempat tepi pelat dikunci.
- Sambungan transverse, yaitu sambungan antar segmen duct.
- Tembusan dinding duct, misalnya tie rod, pipa, atau kabel yang menembus pelat.

Ketiga titik ini menentukan cakupan sealing pada setiap kelas SMACNA dan menjadi dasar pembahasan pada bagian sealing berikutnya.

Seam Longitudinal

Pittsburgh lock adalah seam lima tekukan (five-bend) yang saling mengunci, membentuk kunci empat lapis yang kaku dan menopang diri sendiri bahkan sebelum diberi sealant. Lini fabrikasi otomatis dapat membentuk seam ini secara langsung, sehingga produsen umum menggunakannya sebagai sambungan standar pada duct komersial. Banyak pabrikan menggunakannya untuk tekanan rendah hingga menengah.

Button-punch snap lock merupakan jenis sambungan yang lebih cepat dibuat dengan cara menekan dan mengunci tepi pelat, kemudian memperkuatnya melalui titik punch. Menurut panduan produsen, sambungan ini umumnya digunakan pada duct bertekanan rendah, yaitu sekitar 2 in. w.g. atau kurang, sehingga tidak sesuai untuk sistem bertekanan lebih tinggi.

Sambungan Transverse

Slip dan drive. Masukkan ujung duct ke dalam slip, kemudian kunci sambungan dengan memukul drive cleat pada sisi lainnya. Metode ini menawarkan proses pemasangan yang cepat dan ekonomis, tetapi menghasilkan kekakuan yang lebih rendah dibandingkan sambungan flens. Umumnya menggunakan metode ini pada sistem bertekanan rendah.

Flange TDC dan TDF. Bentuk TDC (Transverse Duct Connector) dan TDF (Transverse Duct Flange) langsung pada pelat duct melalui proses roll-forming, sehingga tidak memerlukan flens terpisah yang harus dipotong, dirakit, dan dipasang. Pemasang melengkapi sambungan ini dengan corner piece atau corner cleat pada keempat sudut, gasket, serta cleat atau klip untuk mengunci sambungan. Pada sebagian sistem, gunakan flens dengan mastic bawaan atau tambahkan mastic ke dalam saluran flens saat perakitan. Permukaan flens yang kaku menopang gasket, sehingga sambungan ini banyak digunakan pada sistem bertekanan menengah hingga tinggi dan aplikasi yang mensyaratkan tingkat kebocoran minimum.

Flens siku (angle flange). Untuk duct berukuran besar atau sambungan yang membutuhkan kekakuan tinggi, gunakan flens dari besi siku yang dibaut, meskipun metode ini membutuhkan biaya lebih besar dan waktu pengerjaan lebih lama.

Baca juga: Pengertian, Sambungan dan Fitting Spiral Duct

Reinforcement

Pelat duct yang lebar cenderung melengkung dan bergetar di bawah tekanan udara. SMACNA menetapkan bahwa semakin besar ukuran duct atau semakin tinggi kelas tekanannya, semakin tebal gauge yang diperlukan dan semakin rapat jarak pemasangan reinforcement, hingga penggunaan tie rod diperlukan. Tabel SMACNA menentukan gauge minimum galvanis (rentang 26 hingga 16 gauge) berdasarkan lebar duct, kelas tekanan, dan jarak reinforcement melintang.
- Pasang profil atau besi siku sebagai reinforcement pada jarak tertentu di sepanjang duct untuk memperkuat sambungan.
- Gunakan tie rod berupa batang yang menghubungkan kedua sisi duct dari bagian dalam untuk memperkuat duct berukuran lebar dan bertekanan lebih tinggi.
- Stiffening bead (alur penguat) pada panel duct membantu mencegah panel melengkung dan menimbulkan suara.

Kontraktor di Indonesia lazim memilih kelas BJLS, seperti BJLS 60 atau BJLS 80, berdasarkan ukuran duct dan kebutuhan di lapangan. Namun, pemilihan ketebalan tersebut tidak menggantikan acuan tabel gauge dan reinforcement SMACNA. Untuk sistem bertekanan di atas kategori tekanan rendah, konfirmasikan kedua acuan tersebut secara bersamaan. Tie rod yang menembus dinding duct merupakan tembusan yang harus disegel pada kelas sealing tertinggi.

Sealing: Kelas A, B, dan C

SMACNA mengelompokkan sealing duct ke dalam tiga kelas. Cakupan setiap kelas konsisten pada berbagai sumber:

- Pada Seal Class A, penyegelan mencakup sambungan transverse, seam longitudinal, serta seluruh tembusan pada dinding duct.
- Teknisi menyegel sambungan transversal Seal Class B dan seam longitudinal pada duct.
- Pada Seal Class C, teknisi hanya perlu menyegel sambungan transversal.

Beberapa praktik pengerjaan yang konsisten:
- Aplikasikan sealant sebelum sambungan dikunci, bukan sebagai tambalan setelahnya. Sebelum mempertemukan kedua bagian duct, aplikasikan mastic ke dalam saluran flens TDF.
- Segel sudut sambungan, karena sudut adalah titik kebocoran yang sering terlewat. Pasang corner cleat dan aplikasikan sealant pada sudut flens secara bersamaan.
- Menyegegel setiap tembusan, termasuk lubang sekrup gantungan dan tie rod, bila kelas sealing mensyaratkannya.
-  Menyegel Seam longitudinal pada Seal Class B dan A. Pengaplikasian sealant pada sisi luar memudahkan pemeriksaan kondisi sambungan. Sementara itu, pengaplikasian sealant pada sisi dalam menghasilkan tampilan luar duct yang lebih rapi.

Baca juga: 5 Titik Rawan Kebocoran pada Sambungan HVAC

Isi Artikel
Konsultasi Gratis
Butuh ducting atau komponen HVAC custom? Tim teknis kami siap membantu.